SARMA H SIREGAR - BATAM
Pengunjung D'Bottle Cafe pasti akrab dengan empat musisi yang tiap malam menghibur mereka. Bahkan, ada pengunjung kafe yang sengaja datang hanya untuk mendengarkan lagu-lagu Joshita dkk
"If I stay here just a little bit longer, If I stay here, won't you listen to my heart, whoa, heart?"
Lagu I Don’t Want To Talk About It dari Rod Sterward itu dinyanyikan apik oleh empat musisi berumur separuh baya. Malam itu, mereka seperti menghipnotis pengunjung D'Bottle Cafe yang bersantai di kafe di bilangan Batam Centre tersebut. Tidak hanya mengikuti mereka bernyanyi, ekspresi dan gerak tubuh pengunjung mengisyaratkan bahwa mereka ikut menikmati penampilan mereka.
Keempatnya tak lagi muda, tapi tak satu pun dari mereka mau dibilang tua. Kata senior dan berpengalaman mungkin yang paling tepat disematkan kepada musisi yang sudah malang melintang ini.
Petikan 2 gitar ditambah cabikan contra bass dan tabuhan conga keempatnya menjadi pemanis suasana di D’Bottle Café setiap hari, mulai dari pukul. 19.00 hingga 22.00. Joshita (Gitar), S. Aritongan (Gitar), Fido sianipar (Contra Bass) dan Peter Yalla (Conga), demikian keempatnya kerap disapa pendengarnya.
Malam itu, I Don’t Want To Talk About It dari Rod Sterward menjadi lagu terakhir yang mereka bawakan. Tiga pengunjung yang duduk di sebuah meja, tepat di pintu masuk D’Bottle beruntung mendengar tembang penutup.
Dua orang berkebangsaan asing dan satu orang wanita Indonesia sekali lagi membukikan bahwa alunan musik Joshita dan rekan-rekannya memang memiliki kemampuan magis menghipnotis. Cukup menarik menyaksikan bagaimana salah seorang pria bule itu menggenggam dadanya dengan ekspresi pilu, sambil mengikuti lirik lagu Rod Steward.
“If I stay here just a little bit longer, If I stay here, won't you listen to my heart, whoa, heart?” Pria bule itu menirukan lirik lagu tersebut. Sesekali ketiganya juga menangangkat gelas wine yang ada di hadapannya, kemudian toss.
Harmonisasi empat sekawan ini ternyata terbangun karena pengalaman bermusik yang mendarah daging. Tidak satu orang pun dari mereka saling kenal sebelumnya. Bahkan grup akustik yang memainkan nada-nada apik itu pun belum punya nama.
“Kami berasal dari grup yang berbeda, tak saling kenal sebelumnya. Bahkan Peter baru bergabung 3 minggu dengan kami. Soal nama grup, tak pernah kepikiran untuk buat. Tapi orang sering manggil kami dengna sebutan D’Boottle Acoustic,” ungkap Joshita, pentolan grup music D’Boottle Acoustic.
Joshita dan S Aritonang adalah personel yang paling lama bergabung di D’Boottle Acoustic. Fido Sianipar baru bergabung sebulan, sementara Peter Yalla baru 3 minggu. Namun harmonisasi keempat musisi ini sudah terbangun.
Kendati tidak menemukan kesulitan berarti dalam menggabungkan karakter musik mereka, namun butuh waktu memadumadankan jiwa musik mereka. Peter dan Fido memiliki karekter musik yang sedikit berbeda dengan Joshita dan S. Aritonang.
“Stylenya bung berdua lain (Joshita dan S. Aritonang), kami berdua (Peter dan Fido) lain. Perlu waktu menyatukan jiwa musik kami. Tapi karena musik sudah menjadi makanan kami sehari-hari, tidak terlalu sulit melakukan itu,” ujar Peter.
Pernyataan Peter diamini oleh S Aritonang. Menurutnya, pengalaman puluhan tahun berkecimpung di dunia musik membuat mereka tidak kesulitan menggabungkan warna musik yang berbeda.
Terbukti, setiap penampilan merka dari meja ke meja di D’Boottle Café selalu mendapat sambutan positif. Tak jarang pendengar ikut bergoyang bersama mereka. Beberapa malah sering datang kembali hanya untuk mendengar mereka bernyanyi.
“Karena pengalaman itu guru besar kami. Walaupun kami baru ketemu, langsung bisa bergabung. Kami ini unik, karena hampir semua jenis musik kami bisa, walaupun tidak dikuasai sepenuhnya. Mau minta kasidahan bisa, lagu Mandarin juga bisa, bahkan sampau lagu aborigin dari Australia juga bisa,” ujar pria yang pernah bergabung dalam group musik D’Mercys ini.
Mereka kerap disebut entertainer sejati oleh para pendengarnya. Tak hanya menyanyi, pria-pria ini juga menyajikan joke segar sambil menyapa tamu. Membuat tamu merasa nyaman dan kembali rileks menjadi misi utama mereka.
Tak hanya karena joke yang segar, mereka selalu bisa menghibur tamu dengan tembang-tembang yang akrab di telinga tamu.
Biasanya, mereka akan menyapa tamu dan bertanya asalnya. D’Bootle Acoustic kemudian akan menyanyikan lagu yang berasal dari negara tamu tersebut. Kendati tak semua lagu mereka tahu artinya, namun setiap penampilan selalu membawa suasana segar dan menghibur bagi pendengar.
“Karena itu kami harus hapal lagu-lagu dari negara-negara yang berbeda. Kami juga harus tahu penyanyi ini berasal dari negara mana, penyanyi yang lain dari mana. Sesuaikan dengan daerah asal tamu,” jelas Fido.
Namun tak jarang keempatnya tak bisa menyanyikan lagu yang diminta oleh tamu. Tak habis akal, Joshita dan rekan-rekannya kerap menawarkan lagu lain yang dibawakan oleh group atau penyanyi yang sama. Biasanya, tamu yang ditawari tetap menyambut tawaran tersebut secara antusias. Trik-trik lain juga dipersiapkan. Tujuannya adalah agar tamu yang dtang tak kecewa.
“Yang kita mentok itu kalau anak muda yang datang. Kami kruang hapal lagu-lagu sekarang. Kita tidak mungkin tahu semua lagu. Biasanya kita tawarkan lagu lain tapi dri group atau penyanyi yang sama,” kata Fido.
Keempatnya mengaku cukup senang bisa tergabung dalam satu group dan bermain di D’Bootle. Selain karena merasa sehati dalam bermusik, Konsep yang disajikan di D’Boottle membuat mereka lebih dekat secara emosional dengan tamu-tamu mereka.
“Bisa lebih dekat dengan tamu. Bisa langsung berbicara adengan tamu, keinginan mereka apa. Sehingga kami bisa perform optimal, sampai tamu benar-benar enjoy. Lagi pula, pemiliknya cukup mengerti musik, sehingga membuat suasana semakin nyaman,” tutup Joshita. ***
0 komentar :
Posting Komentar