SARMA H SIREGAR - BATAM
Sri Panatun mengubah cangkang kerang yang dibuang warga Belakangpadang menjadi kerajinan tangan yang menarik. Dulu, ia banyak belajar ke luar Batam agar produknya terus berkembang. Kini, ia banyak didatangi warga dan instansi pemerintah yang ingin belajar soal kerajinan kerang.
Rumah Sri Panantun yang terletak di Kampung Jawa, Kelurahan Sekanak Raya, Belakangpadang, memiliki julukannya sendiri; Rumah Kerang. Rumah bercat putih itu tampak sama seperti rumah-rumah yang ada di sebelahnya. Tak ada petunjuk apapun yang bisa didapat untuk memastikan rasa penasaran, mengapa rumah ini disebut rumah kerang.
Namun ketika masuk ke dalamnya, barulah KORAN SINDO BATAM paham, mengapa rumah wanita yang disapa Atun itu disebut demikian. Hampir semua pernak-pernik di dalamnya terbuat dari cangkang kerang. Sebuah vas berisi bunga berwarna merah yang paling menarik perhatian. Bentuknya seperti tulip diselipkan diantara hiasan daun-daun hijau. Terlihat seperti asli. Tak ada yang menyangka bahwa tulip merah itu adalah cangkang gong-gong yang disulap apik.
Sebuah miniatur kapal berwarna cokelat juga terlihat terpajang indah di lemari hias. Miniatur kapal tersebut dibalut pernis sempurna, sehingga kilaunya mengesankan dia terbuat dari bahan kayu jati nomor satu. Tapi lihatlah, dia terbuat dari beberapa onggokan cangkang kerang dipadukan, sehingga membentuk miniatur kapal yang menarik perhatian.
Atun yang mengkreasikannya tersenyum saat melihat hasil karyanya tersebut diperhatikan demikian lekat. Dia menuturkan, semua terbuat dari cangkang kerang yang terbuang begitu saja di Belakangpadang.
"Di sini banyak orang senang makan gong-gong. Setelah itu cangkangnya dibuang. Sayang betul, pikir saya. Padahal kalau mau, bisa dikreasikan menjadi kerajinan bernilai tambah,” ujar ibu dari 3 anak itu.
Minatnya untuk menekuni kerajinan dari kerang timbul sejak tahun 2006. Dia memang bukan yang pertama. Namun saat itu, tak ada yang serius menekuni kerajinan tersebut. Sebagian besar hanya menjadikannya sampingan, sehingga perkembangannya tak pernah signifikan.
Bahkan tak sedikit yang berstigma negatif terhadap kerajinan tersebut. Kulit kerang dianggap limbah yang tak memiliki nilai tambah. Bahkan dia sempat menerima sejumlah cibiran, ketika mulai serius menekuni kerajinan tersebut.
“Mereka bilang. Ah, mahal betul. Kalau barang macam ni banyak juga terserak di kolong rumah kami. Itu kadang menyulut amarah. Tapi saya tak gubris,” jelasnya.
Dia tak mau kerajinan kerang dipandang sebelah mata. Upaya demi upaya untuk meningkatkan kualitas terus dilakukan. Sebagai langkah awal Atun ikut Disperindag Kota Batam ke Kepulauan Seribu, Jakarta untuk memperdalam ilmunya.
Di sana dia berlajar teknik-teknik kerajinan kulit kerang. Dia melihat banyak contoh kerajinan yang telah dihasilkan di Kepulauan Seribu. Wawasannya bertambah. Atun menjadi semakin bersemangat mengembangkan kerajinan tersebut.
Pulang ke Belakangpadang, Atun segera mempraktikkan ilmunya. Cibiran tentu saja tak segera hilang, tapi dia tetap berjalan. Tak pantang menyerah, Atun kerap keliling-keliling pantai untuk mencari kulit gong-gong. “Saya tak berhenti bereksplorasi. Saya coba ciptakan kreasi-kreasi baru, sehingga kerajinan ini berkembang. Biarlah orang mau bilang apa, saya tetap maju terus,” ujarnya.
Setiap bulan, Atun selalu berupaya menciptakan varian kerajinan baru. Sampai lama kelamaan produk-produknya semakin bervariasi. Pesanan demi pesanan juga tak henti-hentinya datang. Sampai akhirnya Atun sendiri kewalahan melayani permintaan.
Produk kerajinan kerang buatannya juga kerap dipakai oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Batam untuk pameran ke berbagai kota. Tak jarang orang berdecak kagum dengan hasil kreasi wanita kelahran Yogyakarta ini. Karenanya, pesanan dari luar kota juga tak terelakkan.
Tak mau berpuas diri, Atun tetap mencoba mengembangkan ide-ide kreatifnya. Dia masih suka ikut pelatihan-pelatihan. Dia berguru kepada pengrajin kerang dari Bali, Semarang, dan Yogyakarta. “Saya suka melihat hasil karya mereka. Kemudian saya adopsi dan kembangkan menjadi produk khas Belakangpadang. Banyak-banyak berguru membuat kreatifitas semakin terasah,” kata dia.
Kini produk kerajinan kulit kerang miliknya sudah dipajang di mal-mal di Batam. Dia masih produktif, walaupun usianya sudah menginjak 50 tahun. Kadang-kadang dia merasa penat, tapi tak pernah dia berniat berhenti melakoni kerajinannya itu.
Atun juga aktif berbagi ilmu. Kini Rumah Kerang miliknya tak hanya dikelola sendiri. Dia merekrut tujuh ibu-ibu dari Belakangpadang, untuk diajari berkreasi dengan kulit kerang. Dia menumpahkan kreatifitasnya kepada ibu-ibu tersebut.
“Saya punya visi, ibu-ibu di Belakangpadang ini menjadi lebih produktif. Cangkang-cangkang gong-gong yang sepertinya tak bernilai ini sangat potensial dikembangkan, sehingga menjadi industri rumah tangga yang menghasilkan. Itulah mengapa saya mulai membagikan apa yang saya punya kepada ibu-ibu ini,” jelasnya.
Jika awal-awal Atun harus belajar tekun, kini dia harus berbagi ilmu. Ada saja yang datang ke rumahnya untuk belajar mengenai kerajinan cangkang kerang. Dia dengan senang hati membagi-bagikan pengetahuannya.
Langganannya tiap tahun adalah ibu-ibu Jalasenastri dari Batam. Bahkan ibu-ibu dari Dinas PU Kota Palembang juga datang hanya untuk menimba ilmu dengan Atun. Dia merasa senang, karena pengetahuannya ternyata bisa dibagikan ke berbagai kalangan.
“Bangga juga pak. Banyak yang ingin belajar dari saya. Padahal saya juga masih harus mengembangkan kreatifitas saya. Tapi siapaun yang datang, akan tetap saya sambut dan layani,” ujarnya.
Sekarang, impian terbesarnya adalah membuat kerajinan ini menjadi salah satu ikon pariwisata Belakangpadang. Dia berharap, ketika kerajinan ini dikenal, ibu-ibu dari Belakangpadang bisa menjadikannya momentum untuk menambah pundi-pundi rupiahnya.
“Tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan. Jika selama ini orang cair oleh-oleh selalu kemari, ke depan semua ibu-ibu di sini bisa berjualan oleh-oleh. Produknya akan lebih kompetetif, sehingga kerajinan ini akan lebih berkembang,” kata dia.***
0 komentar :
Posting Komentar