SARMA H SIREGAR
Batam
Gelanggang Gasing Datuk Setia Amanah pernah menjadi ikon
Belakangpadang. Ada Jumain dan Megawati, suami-istri yang pernah membuat
permainan rakyat itu begitu terkenal. Kini, permainan gasing sudah
meredup. Tak banyak dikenal generasi muda di Batam.Megawati selalu bersemangat bila diajak bicara soal gasing. Matanya berbinar ketika berdiskusi mengenai kemajuan permainan rakyat ini. Seperti Jumain, suaminya yang menjadi presiden gasing Asean, Megawati telah menjadi legenda di Belakangpadang.
“Tahun 1999 adalah momentum tak terlupakan. Karena saat itulah bapak mengajak saya untuk mulai mengangkat permainan rakyat ini,” kisahnya saat berbincang dengan KORAN SINDO BATAM, Kamis (8/10).
Jatuh bangun sudah dihadapinya bersama Jumain untuk mengembangkan permainan rakyat di Belakangpadang itu. Tak jarang keduanya harus merogoh kocek sendiri untuk menggelar kegiatan-kegiatan agar gasing lebih dikenal masyarakat.
Permainan gasing, katanya, sudah seperti bagian hidup keduanya. Jumain yang mahir bermain gasing menularkan ilmunya kepada Megawati. Lambat laun kesenangan Megawati terhadap gasing semakin mendalam.
Jumain disebutnya sebagai arsitek ide yang brilian. Sementara Megawati adalah orang yang bertugas membalut ide tersebut dengan detail-detail. Jumain lebih luwes dalam bergaul, sehingga mampu merangkul semua kalangan, sementara Megawati adalah orang yang lebih banyak berperan di belakang layar.
Keduanya kemudian membuat gelanggang gasing dan museum gasing di Belakangpadang yang diresmikan tahun 2004 silam. Gelanggang gasing pertama tersebut diberi nama Gelanggan Gasing Datuk Setia Amanah. Sementara museumnya dinamakan Jantung Budaya. Museum yang dibangun tepat disebelah rumahnya tersebut berisi berbagai macam jenis gasing. Semuanya merupakan representasi gasing dari seluruh wilayah Indonesia. Dibuat sendiri oleh Jumain.
“Kami bangga memiliki museum dan gelanggang ini,” ujarnya dengan logat melayu yang kental.
Tahun 2007, Jumain berpulang. Kepergian suaminya itu, membuat Megawati hampir kehilangan semangat hidup. “Bapak selalu punya ide brilian. Tak mungkin saya mengimbangi dia. Ketika bapak sudah tiada, saya seperti kehilangan arah mengembangkan permainan rakyat ini,” ungkapnya.
Dia taknya terpukul secara fisik, juga secara psikis. Apalagi kemudian beban ekonomi keluarga dilimpahkan sepenuhnya di bahunya. Pikirannya tak lagi fokus mengembangkan gasing. Gelanggang yang tadinya sangat aktif, sudah tak lagi menjadi pusat perhatian. Lama kelamaan gelanggang gasing tersebut sepi.
Tahun 2008 Megawati akhirnya membut keputusan paling berat dalam hidupnya. Dia harus menutup museum gasing Jantung Budaya. Walaupun menyimpan berbagai bentuk sejarah, namun Megawati terpaksa mengalihfungsikan musem tersebut menjadi rumah tinggal. Dia menyewakan bangunan tersebut agar kebutuhan rumah tangganya bisa terpenuhi. Sementara gasing-gasingnya disimpan rapih dalam sebuah ruangan di kediamannya.
Uang yang dia dapat dari menyewakan bangunan tersebut digunakan untuk menyekolahkan kedua anaknya. Sementara untuk menambah kebutuhan sehari-hari, Megawati berjualan makanan. “Demi bisa makan dan menyekolahkan anak, saya terpaksa menutup musem itu. Sedih dan sakit sebenarnya. Tapi saya tak punya banyak pilihan,” imbuhnya.
Namun tak sedikit pun dia melupakan permainan tradisional tesebut. Megawati masih suka melihat kembali koleksi gasing miliknya, membersihkannya dari debu sambil sesekali memainkannya. Dia selalu bersemangat bila ada orang yang mengajaknya mengobrol soal gasing. Seperti membangkitkan nostalgia lama yang menyegarkan jiwa.
Setelah kedua anaknya lulus dari perguruan tinggi. Perhatian wanita ini kembali terfokus. Bebannya sedikit berkurang. Sehingga ia bisa berkonsentrasinya untuk mengembalikan kegemilangan gasing. Tapi, tak gampang mencari kembali sebuah kaki yang akan menyempurnakan gerakananya untuk mengembangkan kembali permainan tradisional gasing.
Era berubah, membuat kebiasaan juga berbeda. Megawati belum menemukan rekan yang bisa saling sepaham dan tak mencari keuntungan. Menurutnya, kesenian ini harus dikembangkan dengan niat baik, bukan karena ingin mencari keuntungan pribadi.
“Zaman sudah berubah. Dulu kami berdua hanya membuat program tanpa memperhitungkan untung rugi. Sekarang itu sudah tak berlaku lagi. Semua harus berdasarkan berapa besar keuntungan yang bisa dihasilkan,” paparnya.
Pengembangan permainan gasing saat ini menurutnya mandek karena tak ada kesehatian. Bak ayam kehilangan induk, semua pelaku permainan tradisional gsing jalan masing-masing. Tak ada yang memimpin dan mengarahkan. Hasilnya, tak pernah ada hasil optimal. Padahal dulu Belakangpadang sempat terkenal dengan permainan gasingnya yang mempesona.
Kondisi tersebut membuatnya miris. Jika tak segera dibenhi, keberadaan gasing akan semakin tergerus. Generasi muda akan semakin asing dengan permainan ini. Menghadapi kenyataan ini, Megawati semakin sedih. “Ini bukan lagi meredup, tapi sudah menjadi tak ada cahaya. Banyak yang berupaya membangun kembali. Tapi tak ada yang berniat membangun visi bersama. Semua jalan sendiri-sendiri, seperti ayam kehilangan induk,” ujarnya.
Saat ini, dia kembali mencoba memperkenalkan permainan tersebut. Dia akan senang bila ada pemuda yang berkunjung ke gelanggang gasing miliknya. Dia memberikan pengetahuan mengenai gasing. Termasuk cara bermain gasing yang benar. Dengan demikian, ketertarikan generasi muda terhadap permainan ini semakin tinggi.
Dia berharap, permainan yang mati-matian diperkenalkannya dan suaminya itu tak tersisih begitu saja. Dia juga berharap kontribusi pemerintah untuk memajukan kesenian daerah tersebut.
Belakangpadang, katanya, tepat untuk dijadikan sentra permainan tradisional gasing. Menggaet wisatawan asing untuk berkunjung, sehingga secara tak langsung membuat permainan ini memiliki nilai ekonomis. Dengan demikian, tak akan sulit memikat hati penduduk untuk lebih serius melestarikan permainan ini.
Rencananya dia juga akan kembali menghidupkan musem gasingnya yang sempat mati. Sudah ada lokasi baru yang disediakan. Hanya saja Megawati harus merumuskan kembali konsep museumnya, sehingga lebih menarik dan lengkap.
Dia juga sedang mencari rekan yang bisa sama-sama mengelola museum tersebut. Tak perlu keuntungan materi yang tinggi, dia hanya ingin gasing kembali ke posisinya, menjadi ikon kebanggaan Pulau Penawar Rindu itu.
“Saling bahu membahu agar permainan ini dilestarikan. Kembali ke tahta tertingginya,” tutupnya.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar